Berita Detail

Kertarajasa's Admin

Di bawah naungan langit Kota Malang yang sejuk, suasana khidmat menyelimuti deretan nisan para pahlawan dan leluhur di Taman Makam Untung Suropati, Jl. Veteran. Dalam rangka menyongsong Hari Suci Waisak 2570 BE pada tahun 2026 ini, Perkumpulan Dharmaduta Malang Raya menginisiasi sebuah rangkaian kegiatan spiritual dan sosial bertajuk "Waisak Sananda". Kegiatan ini menjadi sebuah ajang pertemuan batin yang sakral, mempertemukan niat tulus untuk mengenang jasa mereka yang telah mendahului dengan semangat kemanusiaan yang selaras dengan ajaran Buddha tentang kasih sayang yang tidak terbatas.

 

 

Acara ini dihadiri oleh sekitar 100 orang yang mewakili berbagai elemen penting umat Buddha di wilayah Malang Raya. Kehadiran para tokoh ini mencerminkan persatuan yang kokoh, mulai dari pimpinan Majelis Keagamaan Buddha, perwakilan organisasi dan rumah ibadah, hingga para penyuluh serta guru agama Buddha. Sinergi ini menunjukkan bahwa semangat Waisak bukan sekadar perayaan individu, melainkan gerakan kolektif untuk memupuk harmoni dan kepedulian sosial di tengah masyarakat yang majemuk, sekaligus menjaga nyala api spiritualitas di bumi Arema.

 

Kebersamaan ini semakin bermakna dengan keterlibatan aktif civitas akademika STAB Kertarajasa yang membawa nuansa intelektual sekaligus pengabdian. Delegasi ini dipimpin langsung oleh Bapak Aryanto Firnadi, M.A. (B.Dh.) selaku Wakil Ketua I, didampingi oleh Bapak Kadek Jaya Sumanggala, S.Pd., M.Pd. selaku Kepala Laboratorium STAB Kertarajasa. Partisipasi ini bukan sekadar kehadiran formal, melainkan perwujudan nyata dari sinergi antara praktisi Buddhis dan akademisi dalam melestarikan nilai-nilai penghormatan serta penerapan nilai luhur Katannu Katavedi—tahu berterima kasih dan membalas budi—dalam konteks kebangsaan.

 

Kesakralan prosesi mencapai puncaknya dengan kehadiran rombongan berjubah yang terdiri dari empat Samanera dan tiga Atthasilani, yang memberikan aura ketenangan dan kedisiplinan spiritual. Di samping mereka, lima mahasiswa reguler STAB Kertarajasa turut serta dengan penuh antusias, mengikuti setiap tahapan upacara dengan sikap hormat yang tinggi. Kehadiran para calon penjaga Dharma ini menjadi simbol regenerasi spiritual, di mana nilai-nilai bakti diteruskan dari generasi senior kepada kaum muda agar tradisi penghormatan kepada leluhur dan pahlawan tetap terjaga sepanjang zaman.

 

 

Rangkaian utama dimulai dengan sesi Penghormatan Khidmat melalui puja bakti dan doa bersama yang menggetarkan sanubari. Di hadapan monumen perjuangan, para tokoh agama, Samanera, Atthasilani, dan seluruh peserta menundukkan kepala dengan penuh kerendahan hati. Mereka memancarkan vibrasi kedamaian serta merapalkan doa-doa tulus, berharap agar jasa-jasa para pahlawan dan leluhur membuahkan kebahagiaan di alam yang lebih tinggi. Prosesi ini kemudian dilanjutkan dengan Tabur Bunga atau Puspa Bangsa, di mana kelopak melati dan mawar yang wangi ditebarkan di atas pusara sebagai simbol ketulusan hati untuk terus mengharumkan nama bangsa melalui perilaku yang bajik.

 

Sebagai penutup yang menyentuh sisi kemanusiaan, dilakukan aksi Bersih Makam yang dimaknai sebagai Karma Yoga. Seluruh peserta, tanpa memandang status baik itu pimpinan, dosen, maupun mahasiswa, bergotong-royong membersihkan area makam dari rumput liar dan dedaunan kering. Kegiatan fisik ini sejatinya adalah bentuk meditasi dalam tindakan (mindfulness in action), di mana setiap kotoran yang dibersihkan dari lingkungan makam merupakan cerminan dari tekad umat untuk membersihkan batin mereka sendiri dari kotoran duniawi. Melalui Waisak Sananda 2026, harmoni antara doa, penghormatan, dan kerja nyata tercipta dengan indah di jantung Kota Malang.

 

Waisaksananda 2026

Tabur Bunga TMP