Bumiayu, 5 April 2026 — Suasana teduh dan penuh semangat kebersamaan menyelimuti kawasan Sumber Air Kucur, Dusun Lunggurtimo, Desa Bumiayu, Kab. Blitar. Pada momentum yang sarat makna tersebut, Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan komunitas peduli lingkungan Narendra Jaga Bumi. Kerjasama ini mengusung tema “Aksi Pelestarian Sumber Air dan Penanaman Pohon” sebagai langkah konkret dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air di Desa Bumiayu.

Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari Kepala Desa Bumiayu, Komunitas, Narendara Jaga Bumi, Babinsa, Ketua Vihara Bodhi Amatta, mahasiswa, relawan dan warga setempat. Kehadiran berbagai pihak ini menciptakan suasana kolaboratif yang hangat dan penuh semangat gotong royong. Sinergi lintas sektor ini menjadi fondasi penting dalam upaya pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.
Kepala Desa Bumiayu, bapak Agus Wiyono S.Sos., menuturkan bahwa sumber Air Kucur sendiri memiliki peran vital bagi kehidupan masyarakat Desa Bumiayu, terutama sebagai sumber air bersih dan penopang aktivitas pertanian. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, keberadaan sumber air ini mengalami deprisiasi hidrologi-perubahan iklim, alih fungsi lahan, serta menurunnya tutupan vegetasi di kawasan resapan air. Kondisi ini mengakibatkan penurunan debit air, terutama pada musim kemarau, sehingga memunculkan kembali kekhawatiran akan krisis air. salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah perubahan penggunaan lahan di sekitar kawasan sumber air. Lahan yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan secara perlahan berubah menjadi area pertanian dan pemukiman yang masif. Transformasi ini berdampak pada menurunnya kemampuan tanah dalam menyerap air hujan. Akibatnya, air lebih banyak mengalir di permukaan sebagai limpasan, yang tidak hanya mengurangi cadangan air tanah tetapi juga meningkatkan risiko erosi dan degradasi lahan.

Kepala BPD sekaligus Ketua Narendra Jaga Bumi, Bapak Jarwoko, S.Ag., M.Pd.B., menyampaikan bahwa berkurangnya jumlah pohon-pohon endemik turut memperparah kondisi ekologis di kawasan. Pohon-pohon besar yang memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan hidrologis semakin berkurang. Padahal, vegetasi tersebut berperan sebagai penyimpan air alami sekaligus pelindung tanah dari kerusakan. Hilangnya vegetasi ini berdampak langsung pada menurunnya kualitas dan kuantitas sumber air. Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, dilakukan upaya revitalisasi kawasan Sumber Air Kucur melalui pendekatan ekologis yang terintegrasi. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah perluasan area konservasi hingga mencapai sekitar enam hektar. Kawasan ini kemudian dikembangkan sebagai zona perlindungan sumber air dengan mengedepankan prinsip keberlanjutan.
Dalam program ini, telah dilakukan penghijauan secara terencana di area seluas sekitar 6,2 hektare dengan kapasitas 8.000 bibit pohon. Saat ini sudah terealisasi lebih dari 5.000 pohon bibit dengan berbagai jenis, termasuk pohon endemik dan tanaman produktif. Pemilihan jenis tanaman dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan aspek ekologis dan manfaat jangka panjang.
Pohon-pohon endemik ditanam untuk memulihkan keseimbangan ekosistem, sementara tanaman buah dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan masyarakat sekitar. Pendekatan ini merupakan konsep agroforestri yang mengintegrasikan fungsi ekologis dan ekonomi. Namun, tantangan terbesar dalam program ini terletak pada perawatan keberlanjutan. Pohon-pohon yang telah ditanam memerlukan perhatian intensif agar dapat tumbuh optimal seperti kekeringan misum kemarau, hama, serta gangguan lingkungan menjadi ancaman yang harus diantisipasi secara sistematis. Oleh karena itu, dibutuhkan komitmen jangka panjang dari seluruh pihak untuk memastikan keberhasilan program ini.
Harapan Implentasi MoU
Kerjasama antara STAB Kertarajasa dan Narendra Jaga Bumi merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Perguruan tinggi diharapkan berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan sebagai agen perubahan sosial yang responsif terhadap persoalan ril di masyarakat. Dalam konteks ini, isu krisis air dan degradasi lingkungan menjadi perhatian utama yang membutuhkan keterlibatan aktif dunia akademik.
Pak Kepala Desa dan Ketua Narendra Jaga Bumi mengharapkan program apapun yang ada di STAB kertarajasa yang relevan dengan pelestarian Sumber Air dan lingkungan dapat dilakukan di sini. Seperti Pengabdian Masyarkat (PPM) yang dilakukan dalam waktu dekat, dapat dilakukan di Bumiayu dengan program prioritas perawatan sumber air kucur. Beliau merekomendasikan rencana aksi kolaborasi yang mencakup perawatan, monitoring berkala, serta program edukasi lingkungan. Program aksi ini meliputi kegiatan penyiraman, pemupukan, dan pengawasan rutin, serta edukasi kepada masyarakat menjadi aspek penting untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Keterlibatan STAB Kertarajasa dalam kegiatan ini menjadi bagian penting dari proses pembelajaran berbasis pengalaman khususya bagi mahassiwa. Misalnya melalui program pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa akan memperoleh pengalaman secara langsung tantangan konservasi lingkungan di lapangan. Aktivitas seperti penanaman, pemeliharaan, dan pemantauan pertumbuhan tanaman menjadi sarana edukasi yang membentuk kesadaran ekologis dan tanggung jawab sosial.
Selain itu, penandatanganan MoU ini juga bagian dari implementasi kegiatan Vesākha Sānanda 2570 BE/Tahun2026 dari Ditjen Bimas Buddha RI. Momentum ini aktualisasi ekoteologi nilai-nilai agama Buddha yaitu sila (moralitas), metta (cinta kasih), karuna (welas asih), dan kebijaksanaan (panna) dalam bentuk kepedulian terhadap lingkungan hidup. Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa praktik keagamaan harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberi manfaat bagi semua makhluk dan alam yang menghidupinya.
Penandatanganan MoU antara STAB Kertarajasa dan Narendra Jaga Bumi menjadi langkah awal yang penting dalam upaya pelestarian sumber air di Bumiayu. Kegiatan ini menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan memerlukan keterlibatan semua pihak secara aktif dan berkelanjutan serta semangat gotong royong dan kepedulian bersama, diharapkan Sumber Air Kucur dapat terus menjadi sumber kehidupan di masa depan.