BLITAR – Dalam semangat memperingati Waisak 2570 BE Tahun 2026, Vihara Buddha Loka Jaya bersama dengan berbagai unsur umat Buddha, menggelar kegiatan Thūpapujā di pelataran Candi Simping pada Minggu sore, 26 April 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 16.00 WIB ini merupakan bentuk penghormatan kepada Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardana, pendiri Kerajaan Majapahit yang telah berjasa besar bagi penyatuan wilayah dan Dharma di bumi Nusantara.
Candi Simping yang dikenal sebagai tempat pendharmaan atau penyimpanan abu jenazah Raja Kertarajasa, menjadi lokasi yang sarat makna sejarah dan spiritual. Di tempat inilah umat Buddha berkumpul untuk melaksanakan rangkaian Thūpapujā yang mencerminkan kewajiban moral melakukan penghormatan kepada para raja dan leluhur yang berjasa, sebagaimana diajarkan dalam tradisi Buddhis yang telah berlangsung lebih dari 2.500 tahun.
Meneladani Sang Pelindung Dharma
Sri Kertarajasa Jayawardana, yang lebih dikenal sebagai Raden Wijaya, tidak hanya dikenang sebagai pendiri Kerajaan Majapahit pada tahun 1293 M, tetapi juga sebagai raja yang menjunjung tinggi Dharma. Hal ini relevan dengan kutipan dalam Cakkavatti-Sīhanāda Sutta (DN.26) yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, disebutkan amanat agung bagi seorang pemimpin:
"Engkau (Raja) harus menegakkan penjagaan, pertahanan dan perlindungan sesuai Dhamma bagi rumah tanggamu, pasukammu, para mulia dan bawahammu, untuk para Brahmana dan perumah tangga, penduduk desa dan kota, para petapa dan Brahmana, binatang-binatang liar dan burung-burung. Berikanlah perlindungan, penjagaan, dan naungan yang adil sesuai Dharma kepada rakyatmu."
Amanat inilah yang menjadi landasan bahwa Raden Wijaya layak mendapatkan pujā (penghormatan) sebagai pelindung Dharma di Bumi Nusantara. Beliau mendirikan dan memimpin kerajaan dengan menegakkan nilai-nilai keadilan dan perlindungan bagi seluruh rakyat, hewan dan alam sekitarnya.
Rangkaian Puja Penuh Kesadaran
Kegiatan Thūpapujā berlangsung dalam suasana layung menguning, hening, tentram, damai dan penuh kesadaran. Diawali dengan Fang-Sheng (pelepasan satwa) ikan lele di sungai mengalir sebagai ungkapan welas asih melalui kebebasan makhluk hidup tanpa dukkha (penderitaan). Rangkaian kemudian berlanjut pada Padakkhinā, ketika umat berjalan mengelilingi Candi Simping dengan langkah cankamana perlahan dan penuh kesadaran. Tangan teranjali membawa amisa puja, bunga dan dupa, menghadirkan perpaduan antara penghormatan. Paritta suci yang dilantunkan bersama kemudian mengalun lembut, mengisi pelataran candi dengan nuansa teduh yang menenangkan batin. Memasuki Bhāvanā, keheningan semakin terasa; setiap individu memusatkan pikiran, melimpahkan jasa kebajikan, sekaligus menata kembali batin dalam penghayatan cinta kasih yang jernih.
Usai meditasi, suasana beralih ke Anusāsanā, ketika Sāmaṇera menyampaikan wejangan Dhamma dengan nada tenang dan terarah. Ia mengingatkan bahwa Thūpapujā di Candi Simping bukan sekadar ritual, melainkan bentuk penghormatan kepada Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana sebagai pendiri bangsa, sekaligus penanda harmoni ajaran Siwa-Buddha yang pernah hidup berdampingan. Nilai-nilai kebajikan yang diwariskan—kebijaksanaan, keadilan, dan tanggung jawab moral—dihadirkan kembali sebagai cermin bagi para pemimpin masa kini. Dalam penjelasannya juga disinggung bahwa kemakmuran tidak terlepas dari kebiasaan merawat batin melalui kunjungan ke tempat suci, serta praktik persembahan yang dimaknai sebagai bentuk dana dan penghormatan yang bijaksana. Rangkaian kemudian ditutup dengan Paritta Patidāna, pelimpahan jasa kebajikan kepada para leluhur, yang dilantunkan dengan khidmat sebagai ungkapan bakti dan ingatan yang tulus.
Makna bagi Umat Buddha Blitar
Kegiatan Thūpapujā di Candi Simping memiliki resonansi tersendiri bagi masyarakat Blitar, sebuah wilayah yang lekat dengan jejak para pemimpin besar. Selain Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana sebagai pendiri Majapahit, Blitar juga dikenang melalui sosok Supriyadi yang gigih melawan penjajahan, serta Soekarno yang dimakamkan di kota ini dan hingga kini menjadi tujuan ziarah nasional. Di tengah ingatan kolektif itu, tersimpan pula kisah tutur para sesepuh tentang isyarat “akan ada mayat terbang namun berbau harum,” yang kemudian dimaknai masyarakat saat jenazah Bung Karno dipulangkan ke Blitar pada dekade 1970-an. Bagi sebagian umat, kisah ini bukan sekadar cerita, melainkan bagian dari cara tradisi merawat makna sejarah.
Kesadaran akan jejak para tokoh tersebut menghadirkan pemahaman bahwa penghormatan kepada leluhur bangsa merupakan bagian dari penghormatan terhadap diri sendiri sebagai komunitas. Ari Kriswanto, Ketua Vihara Buddha Loka Jaya Kademangan, menegaskan bahwa praktik ini sejalan dengan ajaran dalam Sigalovada Sutta yang mengajarkan kewajiban anak terhadap orang tua, bahkan setelah tiada (meninggal), melalui pelimpahan jasa kebajikan. Dalam pengertian yang lebih luas, kewajiban itu tidak berhenti pada lingkup keluarga, tetapi juga meluas kepada para pendahulu bangsa yang telah memberi dasar bagi kehidupan bersama. Maka dari itu, Thūpapujā tidak hanya menjadi ruang spiritual, tetapi juga ruang ingatan—tempat nilai, sejarah, dan penghormatan bertemu dalam kesadaran yang hening namun bermakna.
Momentum Memperkuat Kebajikan Waisak 2570 BE
Kegiatan Thūpapujā ini juga dalam rangkaian semangat penyambutan Hari Raya Waisak 2570 BE tahun 2026. Hari raya waisak merupakan peringatan tiga peristiwa agung yaitu kelahiran, pencerahan, dan Parinibbana (mangkat) Buddha Gotama. Pada waktu ini adalah momentum bagi umat Buddha untuk memperkuat tekad dalam mempraktikkan Dhamma. Dalam ajaran Buddha, inti dari praktik adalah menghentikan kejahatan, berusaha menambah kebajikan dan mensucikan hati dan pikiran.
Penghormatan kepada leluhur melalui Thūpapujā ini adalah salah satu bentuk penambahan kebajikan tersebut. Melalui pikiran yang tulus, ucapan yang penuh cinta kasih, dan perbuatan yang nyata, umat melimpahkan jasa kebajikan kepada para leluhur agar terlahir di alam yang lebih baik, sekaligus memperoleh berkah bagi diri sendiri. "Semoga segala budi baik—kusala kamma—melalui pikiran dan ucapan, kita fokuskan pada kegiatan ini. Semoga apa yang kita lakukan memberikan manfaat besar bagi para leluhur, juga bagi diri kita sendiri," demikian harapan yang disampaikan dalam sambutan kegiatan yang dibacakan oleh Pandita Khantiyano
Dukungan STAB Kertarajasa
Sebagai institusi pendidikan tinggi Buddha yang mengusung nama besar Sri Kertarajasa Jayawardana, STAB Kertarajasa memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan Thūpapujā ini. Nama kertarajasa sendiri adalah bagian dari gelar kebesaran Sang Raja pendiri Majapahit, sehingga kegiatan ini memiliki keterkaitan erat dengan visi dan misi kampus dalam melestarikan nilai-nilai Dharma dan sejarah Buddhis Nusantara.
Dukungan tersebut diwujudkan melalui publikasi kegiatan, dokumentasi, serta partisipasi civitas akademika dalam acara. STAB Kertarajasa berkomitmen untuk terus mendorong kegiatan-kegiatan yang memperkuat kesadaran sejarah dan spiritual umat Buddha Indonesia, khususnya di wilayah Blitar yang kaya akan warisan leluhur.
Kegiatan Thūpapujā di Candi Simping ini diharapkan tidak hanya menjadi acara seremonial tahunan, tetapi juga menjadi gerakan kesadaran kolektif akan pentingnya menghormati leluhur—baik leluhur keluarga maupun leluhur bangsa—sebagai bagian tak terpisahkan dari praktik Dharma dalam kehidupan sehari-hari.Di akhir kegiatan, umat bersama-sama mengucapkan harapan canta kasih yaitu "Semoga kita selalu dalam lindungan Sang Tiratana, hidup sesuai Dhamma, dan selalu berharap semoga semua makhluk hidup berbahagia."