Blitar, [21/03/2025] – Dosen dan mahasiswa dari Sekolah Tinggi Agama Buddha melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat dalam acara Pattidana yang diselenggarakan di Vihara Bodhi Amatta, Dusun Lunggurtimo, Desa Bumiayu, Blitar. Dua dosen yang hadir yaitu Y.M. Bhikkhu Cittagutto Mahathera dan Putu Aryatama, S.Pd., M.Sos., sedangkan dari mahasiswa sebanyak 4 mahasiswa terdiri dari satu sāmaṇera, dua aṭṭhasīlanī dan satu mahasiswa umum. Partisipasi akademisi ini adalah bentuk nyata dari pengamalan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.

Upacara patidana bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada leluhur serta memperkuat nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan umat Buddha. Bapak Putu Aryatama dipercaya sebagai pemimpin upacara yang didalamnya terdapat lima rangkaian penting yaitu pembacaan paritta suci pelimpahan jasa, tuntunan sila (moral), Bhavana (meditasi), dan Dhammadesana (khotbah) serta pemberian amisadana (persembahan) kepada bhikkhu, samanera dan atthasilani. Sedangkan para mahasiswa turut membantu dalam penyelenggaraan acara, mulai dari persiapan altar persembahan leluhur, menyusun susunan acara, dan pendampingan umat yang hadir.
Dengan busana rapi (atasan putih dan bawahan hitam) para umat terlebih dahulu melakukan puja (penghormatan) penuh bakti di altar upacara yang telah disediakan. Pemimpin upacara memberikan arahan untuk memasuki ruang Dhammasala karena upacara akan segera dimulai. Upacara berlangsung selama satu setengah jam dari pukul 18.00 WIB hingga 19.30 WIB, selama proses upacara berlangsung dengan penuh keyakinan, semangat, konsentrasi dan ketenangan semua mendedikasikan kebajikan-kebajikan untuk para mendiang.
Tiba waktunya Bhante memberikan wejangan Dhamma kepada para umat menjelaskan makna upacara patidana. Bhante: “Dalam ajaran Buddha, dalam Tradisi Theravāda, konsep Pattidāna (patti + dāna) berarti "memberikan jasa" atau "melimpahkan jasa" kepada makhluk lain, termasuk leluhur yang telah meninggal. Praktik ini sering dilakukan dalam upacara Pattidāna, di mana seseorang mempersembahkan dana (sumbangan) atau melakukan perbuatan baik, lalu melimpahkan jasanya kepada para leluhur atau makhluk lain yang membutuhkan. Bhante melanjutkan bahwa pelimpahan jasa dapat diibaratkan seperti seorang anak yang merantau meninggalkan orang tuanya. Suatu hari, ia mengirim kabar bahwa ia telah sukses di perantauan. Mendengar kabar baik tersebut, orang tua pasti merasa bahagia. Demikian pula, dalam upacara Pattidāna, para leluhur yang menerima pelimpahan jasa akan merasa senang dan berbahagia. Dalam Sigalovada Sutta, pattidana merupakan perbuatan baik yang dianjurkan, hal ini didasarkan pada kesadaran dan rasa terima kasih kepada leluhur serta keyakinan bahwa perbuatan baik bisa berdampak luas, termasuk bagi makhluk yang telah meninggal dunia.
Upacara diakhir dengan sesi persembahan amisa puja dan pelimpahan jasa kepada Bhante, sāmaṇera dan aṭṭhasīlanī yang diwakili oleh Romo Suyadi, Bpk. Kiswanto, Bu Yusun, dan Bu Bibit. Setelah acara selesai, Kepala Vihara, Romo Suyadi, menyampaikan apresiasinya terhadap kontribusi dosen dan mahasiswa STAB. "Kehadiran Bhante, dan sāmaṇera sangat membantu jalannya acara, tetapi juga memberikan wawasan lebih luas tentang pentingnya praktik kebajikan dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya. Umat merasa senang dan terbantu dengan kehadiran bhante, sāmaṇera dan aṭṭhasīlanī karena mendapatkan bimbingan spiritual dari pemahaman lebih mendalam tentang makna Pattidāna. Selain itu, para mahasiswa juga mengungkapkan pengalaman berharga yang didapatkan, terutama dalam memahami keterkaitan antara patidana dan implementasinya dalam kehidupan sosial.
Kegiatan ini diharapkan dapat mempererat hubungan antara institusi pendidikan Buddhis dengan komunitas umat Buddha di daerah pedesaan. Semangat pengabdian, para dosen dan mahasiswa STAB terus berupaya berkontribusi dalam menjaga serta mengembangkan nilai-nilai keagamaan dan kebajikan di tengah masyarakat. Acara Pattidāna di Vihara Bodhi Amatta ini pun menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara akademisi dan masyarakat dapat menciptakan manfaat yang luas bagi kehidupan spiritual dan sosial.