Kota Batu menjadi saksi bisu sebuah aksi nyata yang memadukan spiritualitas dengan pelestarian lingkungan dalam rangka memperingati Hari Tri Suci Waisak 2570 BE. Pada Minggu, 10 Mei 2026, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur melalui Bimas Buddha menginisiasi sebuah gerakan inovatif bertajuk "Gerakan Eco Enzyme". Kegiatan yang dipusatkan di aliran Sungai Desa Beji, tepatnya di area depan Warung Mbok Sri, dimulai sejak pukul 09.00 WIB. Acara ini bukan sekadar seremoni keagamaan biasa, melainkan sebuah manifestasi dari semangat kepedulian terhadap bumi melalui pemanfaatan cairan organik multiguna yang dikenal sebagai solusi alami untuk memulihkan ekosistem air.
Tema yang diangkat, yakni “Mari bersama menjaga alam melalui penuangan Eco Enzyme”, membawa pesan mendalam mengenai tanggung jawab manusia sebagai penjaga keseimbangan dunia. Dalam perspektif Buddhis, menjaga alam adalah bagian integral dari praktik kebajikan karena adanya saling ketergantungan antara manusia dan lingkungan hidup. Dengan menuangkan cairan hasil fermentasi limbah organik tersebut ke sungai, umat Buddha di Jawa Timur berupaya menyelaraskan diri dengan alam semesta, mengubah perayaan spiritual menjadi sebuah tindakan ekologis yang memberikan manfaat langsung bagi keberlangsungan habitat air di wilayah Malang Raya.
Keberhasilan acara ini terlihat dari partisipasi masif yang melibatkan kurang lebih 350 peserta dari berbagai elemen masyarakat. Kehadiran para anggota Sangha dan tokoh majelis agama memberikan landasan spiritual yang kuat, sementara dukungan dari jajaran pemerintah serta pengurus vihara menunjukkan adanya sinergi kelembagaan yang harmonis. Tak ketinggalan, para penyuluh, pengawas, guru agama, hingga guru Sekolah Minggu Buddha turut hadir memberikan edukasi langsung kepada generasi muda mengenai pentingnya mempraktikkan nilai-nilai luhur dalam bentuk aksi lingkungan yang nyata dan berkelanjutan.
Sisi akademis dan pemberdayaan masyarakat juga tampak menonjol dengan hadirnya mahasiswa serta jajaran dosen dari STAB Kertarajasa. Keikutsertaan mereka, bersama dengan para pegiat Eco Enzyme dari Batu dan Malang, memberikan bobot edukatif bagi masyarakat sekitar, termasuk warga Desa Beji dan Mojorejo. Kolaborasi lintas sektor ini membuktikan bahwa isu lingkungan adalah tanggung jawab kolektif yang mampu menyatukan berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, praktisi lingkungan, hingga umat beragama, demi satu tujuan mulia yaitu pemulihan kualitas lingkungan hidup di Kota Batu.
Suasana di sepanjang aliran sungai terasa penuh kehangatan, diwarnai semangat gotong royong dan kebersamaan yang kental. Saat prosesi penuangan Eco Enzyme berlangsung, terlihat antusiasme peserta yang secara simbolis dan praktis menunjukkan komitmen mereka dalam menjaga kelestarian sungai. Aksi ini sekaligus menjadi sarana kampanye efektif untuk menyadarkan masyarakat luas mengenai pentingnya pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga. Dengan mengubah sisa kulit buah dan sayuran menjadi cairan yang bermanfaat, masyarakat diajak untuk berhenti menjadi penyumbang beban sampah dan mulai menjadi bagian dari solusi perubahan iklim.
Sebagai penutup, kegiatan "Gerakan Eco Enzyme" ini diharapkan mampu meninggalkan jejak positif yang bertahan lama, melampaui euforia perayaan Waisak itu sendiri. Selain mempererat tali silaturahmi antarumat dan organisasi keagamaan, aksi ini membangun budaya cinta lingkungan yang berbasis pada nilai-nilai Buddhadharma. Melalui penuangan cairan kehidupan ini, umat Buddha tidak hanya merayakan kelahiran, pencerahan, dan parinibbana Sang Buddha secara ritual, tetapi juga mewujudkan kasih sayang universal (Metta) terhadap seluruh makhluk hidup dengan cara menjaga rumah besar kita bersama: alam semesta.