Berita Detail

Kertarajasa's Admin

Sebuah studi terbaru yang melibatkan civitas akademika Sekolah Tinggi Agama Buddha Kertarajasa berhasil dipublikasikan dalam  Journal of Humanity and Social Justice (Volume 8 Issue 2, 2026). Penelitian yang mengusung judul "Modal Keluarga Extended Family dalam Pengasuhan Anak PMI Buddha: Tinjauan Bourdieusian" ini menyoroti secara mendalam strategi ketahanan keluarga Buddhis di pedesaan yang orang tuanya bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI). Penelitian ini dilakukan di Dusun Sumber Kucur, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, sebuah komunitas Buddha dengan tingkat migrasi tenaga kerja yang tinggi.

 

Penelitian kualitatif dengan metode studi kasus ini melibatkan 10 informan dari tiga keluarga besar, termasuk nenek, kakek, bibi, paman, dan anak-anak PMI. Hasilnya menunjukkan bahwa keluarga besar (extended family) tidak hanya berperan sebagai pengganti orang tua secara praktis, tetapi juga sebagai aktor sosial yang tangguh. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi tiga tipologi utama pengasuhan yang dijalankan, yaitu pola delegatif yang mentransfer otoritas penuh kepada keluarga besar seperti nenek atau bibi yang didasari oleh kepercayaan dan ikatan emosional kuat, pola kolaboratif yang menciptakan sinergi aktif antara orang tua di luar negeri dan keluarga di kampung halaman melalui pemanfaatan teknologi digital atau yang disebut remote parenting, serta pengasuhan berbasis nilai spiritual Buddhis yang menanamkan nilai-nilai Mettā (cinta kasih), Karuṇā (kasih sayang), dan Sīla (moralitas) melalui keteladanan dan kegiatan di vihara.

 

Penelitian ini memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat, terutama bagi komunitas Buddha dan desa dengan tingkat migrasi tinggi. Pertama, studi ini menjadi bukti empiris bahwa keluarga besar berfungsi sebagai jaring pengaman yang vital ketika orang tua harus bekerja di luar negeri, sehingga dapat menjadi rujukan bagi pembuat kebijakan desa dalam merancang program pendampingan anak PMI berbasis kearifan lokal. Kedua, penelitian ini mengungkap sisi gelap dari pengasuhan kolaboratif, yaitu terjadinya delegitimasi otoritas pengasuh lansia seperti nenek atau kakek akibat dominasi modal ekonomi dari orang tua di luar negeri, sehingga menjadi peringatan penting untuk menciptakan komunikasi yang setara dan saling menghargai antar figur pengasuh. Ketiga, hasil riset menunjukkan bahwa vihara dan Sekolah Minggu Buddhis berperan krusial sebagai institusi reproduksi modal budaya dan simbolik, sehingga masyarakat dapat memanfaatkan komunitas keagamaan untuk mengatasi keterbatasan akses terhadap pendidikan karakter dan spiritual anak-anak PMI.

 

Publikasi ini juga selaras dengan beberapa poin dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Penelitian ini terkait dengan SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) karena dilatarbelakangi oleh motivasi ekonomi keluarga untuk keluar dari jerat kemiskinan melalui migrasi kerja. Selain itu, penelitian ini mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dengan menyoroti pentingnya stabilitas emosional dan kesejahteraan psikologis anak yang ditinggal orang tua bermigrasi. Studi ini juga berkontribusi pada SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) karena menekankan bagaimana keluarga besar dan komunitas vihara memastikan transmisi nilai-nilai moral dan pendidikan karakter yang berkualitas bagi anak-anak PMI. Terakhir, penelitian ini sejalan dengan SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) dengan menyoroti ketimpangan akses terhadap modal spiritual akibat keterbatasan ekonomi, sekaligus menunjukkan strategi adaptasi komunitas Buddha dalam mengatasi kesenjangan tersebut.

 

Civitas akademika STAB Kertarajasa mengundang para pemerhati isu keluarga, migrasi, dan pendidikan anak untuk mendiskusikan lebih lanjut temuan ini dalam forum-forum akademik yang akan datang.

Riset

Peran Keluarga